Konawe Raya

Cegah Gizi Buruk, Dinkes Beri Makanan Tambahan

UNAAHA – Pemerintah Kabupaten Konawe melalui Dinas Kesehatan memberikan makanan tambahan untuk anak sekolah diwilayahnya. Setidaknya, pada program ini, ada 26.269 anak penerima makanan tambahan tersebut.

Pemberian makanan tambahan ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak diusia sekolah. Sehingga sasaran program ini anak yang kurus dengan indikator berat badan menurut tinggi badan kurang dari minus 2 standar deviasi.

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa pada acara pemberian makanan tambahan di Kecamatan Wonggeduku Barat mengatakan, pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya mencukupi kebutuhan gizi anak. Dengan cukupnya guzi, maka tidak ada lagi anak-anak yang menderita penyakit apalagi mengalami gizi buruk.

“Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup masyarakat. Upaya perbaikan status gizi masyarakat memberikan kontribusi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Terutama penurunan prevalensi gizi kurang pada anak sekolah dasar sehingga dapat meningkatkan SDM, ” terangnya, Rabu (24/1).

Kepala Dinas Kesehatan Konawe, M Aris SKM MSi mengatakan, pada program pemberian makanan tambahan ini, Dinkes mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,1 Miliar bersumber dari APBD. Makanan tambahan yang diberikan kepada anak sekolah ini berupa makanan yang mempunyai gizi yang tinggi. Dalam bentuk krakers/biskuit dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan mineral.

“Makanan tambahan yang diberikan diperkaya dengan 11 macam vitamin. Seperti vitamin A, D, E, B1,B2, B3, B5, B6, B12, C, Asam folat, dan tujuh macam mineral,” jelasnya.

Dalam pemberian makanan tambahan ini, lanjut Aris, Dinkes juga memberikan konseling dan pendidikan gizi masyarakat. Konseling itu bertujuan untuk memberikan bekal dan pemahaman tentang pentingnya gizi bagi kesehatan dan dampak negatif yang ditimbulkan jika kekurangan gizi.

“Hasil pemantauan status gizi (PSG), Tahun 2016 menunjukkan prevalensi stunting pada balita sebesar 27,5 persen, balita kurus 8,0 persen, balita sangat kurus 3,1 persen, dan balita resiko kurus 22,8 persen, ” ucapnya.

Olehnya itu, lanjutnya, sasaran PMT ini pada kelompok rawan gizi yang meliputi balita kurus 6-59 bulan maupun anak sekolah dasar atau Madrasah Inftidaiya dengan kategori kurus. “Juga ibu hamil dengan resiko Kurang Energi Kronis (KEK). Yaitu ibu hamil dengan hasil pengukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari 23, 5 cm, ” terangnya. (hdi/ian)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Rakyat Sultra dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.




©2016 Rakyat Sultra by Fajar.co.id

To Top