Pilkada

Pemilih Rasional Terhimpun di Kendari

KENDARI – Pengamat politik Universitas Halu Oleo, Prof Dr Eka Suaib menganggap tipe pemilih di Kota Kendari saat ini mengalami pergeseran. Pada 1999, pemilih di Ibu Kota Sultra ini, masuk dalam kategori pemilih sosiologis. Artinya, mereka memilih calon legislatif berdasarkan kesamaan tempat tinggal, tetangga, atau hubungan interaksi sosial.

Namun tipe seperti itu mulai bergeser. Kini, kata dia, pemilih Kota Kendari masuk kategori pemilih rasional. Pemilih rasional sendiri dibagi dalam dua varian. Pertama, rasional karena melihat program kerja calon legislatif atau kandidat kepala daerah. Kedua, rasional karena mempertimbangkan keuntungan apa yang diperoleh pemilih ketika mendukung calon.

Varian kedua itulah yang banyak di Kota Kendari. Bahkan, tipe pemilih yang masuk varian kedua banyak ditemukan dalam pemilihan Wali Kota Kendari 2017.

Eka Suaib mengatakan, banyaknya pemilih rasional yang masuk dalam varian kedua membuat politik uang di Ibu Kota Sultra tak bisa dihindarkan. “Itu karena pemilih memanfaatkan momen pemilihan. Kenapa bisa seperti itu? Karena memang ada ketidakpercayaan pemilih terhadap sistem atau anggota dewan yang sudah duduk di DPRD,” jelasnya usai menjadi pemateri dalam workshop Partai Hanura, Kamis (21/12).

Mantan Komisioner KPU Sultra ini mengatakan, pergeseran pemilih Kendari dari tipe sosiologis menjadi pemilih rasional mulai terjadi sejak Pemilu 2009. Puncaknya pun ada pada Pemilu 2014. “Saya kira, Pemilu 2014 ini sangat ‘brutal’. Karena dengan kasat mata, praktik politik uang dilakukan,” ungkapnya.

Mengantisipasi agar pemilih rasional varian kedua tidak meluas maka institusi pengawasan harus menegakkan aturan dalam menindak pelanggaran yang terjadi. “Tidak boleh ada proses pembiaran atas pelanggaran yang terjadi,” akunya.

Selain itu, pendidikan politik secara masif harus dilakukan. Olehnya itu, semua komponen partai politik, pemerintah dan elemen organisasi kemasyarakatan harus turut serta melakukan pendidikan politik. “Sehingga, masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan politik uang,” akunya.

Di samping itu, peran parpol sangat dibutuhkan dalam meminimalisir pemilih yang memilih berdasarkan keuntungan apa yang dia dapatkan. Partai politik, katanya, harus menetapkan standar ketika akan merekrut calon legislatif (caleg). Dia berharap, partai bisa mencari orang orang yang punya kapasitas. “Kalau (caleg) punya kapabilitas yang baik, dia tidak akan terlalu banyak mengeluarkan uang. Sebab tingkat penerimaan dari pemilih terhadap calon itu cukup baik. Maka dari itu, ini tugas partai politik dalam menyeleksi caleg,” pungkasnya. (*/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Rakyat Sultra dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.




©2016 Rakyat Sultra by Fajar.co.id

To Top