TPP dan Polda Kendalikan Pemotongan Sapi Betina Produktif – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

Sultra Raya

TPP dan Polda Kendalikan Pemotongan Sapi Betina Produktif

Penandatanganan MoU antara Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra dengan Bimas Polda Sultra, tentang pengendalian pemotongan sapi betina produktif, guna mendukung program UPSUS SIWAB Provinsi Sultra, Kamis (13/7).

KENDARI – Mengantisipasi pemotongan sapi betina produktif di Sultra, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (PTT) Provinsi Sultra bekerjasama dengan Bimas Polda Sultra untuk memberikan pengawasan dan pembinaan kepada masyarakat.

Selain itu, kerjasama ini juga bertujuan mempertahankan populasi sapi betina dan memperbanyak akseptor.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muhammad Nasir mengatakan, Sultra telah lama menjadi pemasok sapi bakalan atau bibit bagi daerah lain, seperti Sulsel, Sulteng, Kalimantan, Maluku dan Papua.

Dia melanjutkan, tantangan dalam penyediaan daging sapi nasional adalah masih rendahnya produktivitas ternak sapi lokal, seperti tingkat kelahiran di bawah 70 persen, kematian ternak di atas 3 persen, adanya gangguan penyakit reproduksi dan tingginya pemotongan betina produktif lebih dari 60 persen.

“Menghadapi tantangan tersebut pemerintah menyusun program strategis yaitu Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) dan kegiatan pengendalian pemotongan betina produktif merupakan salah satu kegiatan Upsus Siwab untuk mempertahankan populasi sapi betina serta memperbanyak akseptor,” ungkap Nasir, Kamis (13/7).

Sementara itu, Kapolda Sultra Brigjenpol Andap Budhi Revianto SIK menuturkan, pihaknya akan menggerahkan Babinkamtibmas di seluruh kabupaten kota dalam membantu masyarakat melakukan pengawasan dan pembinaan. Pembinaan dilakukan mulai pada peternak, pedagang, dan pemotongnya.

“Semua itu kami lakukan agar masyarakat dapat memahami bahwa betina produktif harus dipertahankan dan tidak di potong. Hal ini akan menurunkan populasi betina yang dipotong, karena selama ini populasi sapi betina cukup tinggi mencapai 60 persen lebih,” terangnya.

Perbandingan sapi betina produktif dengan betina tidak produktif yabg dipotong Rumah Potong Hewan (RPH) sebesar 66 persen banding 34 persen atau 4.585 ekor banding 2.418 ekor. (rs)

Click to comment
To Top