Pesan OJK ke Perbankan dengan NPL Tinggi – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Probiz

Pesan OJK ke Perbankan dengan NPL Tinggi

Widodo

KENDARI – Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet tentunya menjadi boomerang bagi perbankan. Kredit macet yang tinggi tentu akan berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA) atau keuntungan. Selain mempengaruhi keuntungan atau laba juga mempengaruhi Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).

Beberapa perbankan di Sultra, tercatat memiliki NPL melebihi 5 persen. Berdasarkan laporan neraca dan laporan laba rugi yang dipublikasi di media, salah satu perbankan daerah per 31 Desember 2016 mengalami NPL hingga diangka 19 persen dengan BOPO 96 persen. Dengan kredit macet yang mencapai angka fantastik dan biaya operasional yang sangat tidak efisien tentunya hanya memberikan sedikit keuntungan.

Kepala Otoritas Jasa Keungan (OJK) Sultra, Widodo, Rabu (12/7) tidak menampik hal tersebut. Menurutnya memang ada perbankan daerah yang kredit macetnya melampaui batas wajar (5 persen) bahkan hingga di Semester 1 tahun 2017. “Untuk kinerja bank daerah di Sultra semester satu tahun 2017, kalau BPD relatif lebih bagus. NPL net-nya rata-rata masih di bawah dua persen. Jika dibanding rata-rata BPD se-Indonesia BPD Sultra masih lebih bagus. Untuk BPR memang NPL-nya tinggi tapi tidak semuanya. Rata-rata memang secara umum terkait kinerja NPL perlu perhatian khusus karena ada beberapa di atas 5 persen,” jelasnya.

NPL yang tinggi menurut Widodo tentu operasionalnya juga tidak efisien, hal tersebut dilihat dari biaya operasional yang digunakan. Jika berada di atas 90 persen walaupun secara operasional masih laba karena tidak melewati angka 100 persen, tapi secara net untuk pendapatannya kurang efisien. “BOPO standar perbankan ASEAN dikisaran 55-65 persen, sehingga kalau sampai diangka 80-90 persen tentunya akan kalah efisien. Jatuhnya, nilai jual kreditnya juga akan tinggi artinya tidak akan bisa bersaing dengan bank lain yang nilai jual kreditnya rendah,” bebernya.

Bukan hanya masalah kualitas SDM, sehingga biaya operasional tinggi. Dipaparkan lebih lanjut banyak faktor yang menyebabkan yakni budaya kerja dan kompetensi yang dimiliki SDM-nya. Budaya kerja yang dimaksud adalah disiplin waktu dan disiplin kerja tapi tetap dikaitkan dengan target laba. “Terakhir adalah komptensi SDM-nya, karena mereka banyak menangani kredit kesil yang sifatnya produktif yang analisisnya macem-macem berbeda dengan kredit konsumtif yang analisisnya tidak begitu rumit,” katanya.

Olehnya dalam pengawasannya, jika di BPD terjadwal. Berbeda halnya dengan di BPR tidak ada jadwal tertentu untuk melakukan evaluasi, pihaknya bisa datang kapan saja untuk melakukan evaluasi dan analisis perbaikan kinerja berdasarkan rencana bisnis masing-masing BPR di Sultra termasuk hal paling krusial yakni NPL.

“Dengan NPL yang tinggi ini, kami ingin memberikan efek jera dengan melakukan pengawasan yang tidak terjadwal semacam SIDAK. Sehingga mereka berbenah setiap saat, tidak hanya pada saat pengawasan dan evaluasi akan dilakukan,” tandasnya.

Selain SIDAK, berbagai upaya juga akan ditempuh OJK guna menyehatkan bank daerah yang NPL nya diatas lima persen yang merupakan standar wajar dari kredit macet perbankan. (rs)

Click to comment
To Top