WTP Berturut, Angka Kemiskinan Tidak Turun – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Sultra Raya

WTP Berturut, Angka Kemiskinan Tidak Turun

ilustrasi

KENDARI – Prestasi Pemprov Sulta dalam meraih peringkat opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas laporan hasil pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan  (BPK) RI perlu diacungi jempol. Terhitung sudah empat kali berturut-turut sejak 2013 hingga 2016.

Namun disisi lain, masih banyak terdapat kekurangan yang harus mendapatkan perhatian dari kepala daerah baik eksekutif maupun legislatif. Sehingga opini WTP tidak terkesan sia-sia saja.

Terbukti, BKP RI masih menganggap Pemprov Sultra belum berhasil dalam menurunkan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran. Demikian diungkapkan Auditor Utama Keuangan Negara Sjafruddin Mosii, Jumat (16/6) saat menyerahkan LHP dan pemberian opini WTP dalam sidang paripurna DPRD Sultra.

Kalau dilihat dari indikator kemakmuran masyarakat lainnya kata Sjafrudin seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan gini ratio, dalam tiga tahun terakhir memiliki IPM yaitu 68,07; 68,75; dan 69,31 atau berada dibawah IPM nasional sebesar 70,18,. Demikian juga gini ratio di Sultra dalam tiga tahun terakhir berfluktuasi di tingkat 0,41; 0,4; dan 0,4 atau lebih tinggi dari gini ratio nasional sebesar 0,394. Hal ini menandakan capaian pembangunan manusia yang masih rendah dan masih tingginya ketimpangan antara orang kaya dan miskin.

“Olehnya itu pencapaian Opini WTP akan sia-sia jika kesejahteraan rakyat di Sultra belum tercapai,” ujar Sajfrudin.

Sehingga diharapkan tahun 2017 ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dapat meningkatkan ratio IPM dan gini ratio pada level yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, serta mampu meningkatkan lagi angka pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan ekonomi nasional, menurunkan tingkat kemiskinan dan menurunkan tingkat pengangguran dibawah angka nasional.

Meskipun dibeberapa sisi indikator kemakmuran masyarakat berada diatas rata-rata nasional. Mulai dari Pertumbuhan ekonomi Sultra dalam tiga tahun terakhir yaitu tahun 2014, 2015 dan 2016 berfluktuasi di tingkat 6,26 persen; 6,88 persen; dan 6,51 persen atau nilai ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional di tingkat 5,01 persen.

Tingkat kemiskinan tiga tahun terakhir juga berfluktuasi di tingkat 12,77 persen; 13.74 persen; dan 12,77 persen dimana tingkat kemiskinan Sultra tahun 2016 lebih tinggi dari tingkat kemiskinan nasional sebesar 10,7 persen.

Tingkat pengangguran dalam tiga tahun terakhir berfluktuasi yaitu 4,43 persen; 5,55 persen; dan 2,72 persen dimana tingkat pengangguran Sultra tahun 2016 lebih rendah dari tingkat pengangguran nasional sebesar 5,61 persen. (rs)

Click to comment
To Top