Proyek Rehabilitasi Rujab Dipersoalkan – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Sultra Raya

Proyek Rehabilitasi Rujab Dipersoalkan

Proyek Rehabilitasi Rujab Dipersoalkan

KENDARI – Proyek rehabilitasi rumah jabatan (rujab) Wakil Ketua II DPRD Sultra  mulai dipersoalkan. Wakil Ketua II DPRD Sultra  Jumarding  menduga Sekretaris DPRD Sultra, Nasruan mencemarkan nama baiknya dengan memerintahkan seorang stafnya bernama Mangkona untuk mengundang salah satu perusahaan mengikuti proses lelang proyek tersebut dengan iming-iming akan menang tender.

Dugaan Jumarding mencuat ketika massa Forum Mahasiswa Antikorupsi Indonesia (Formaki) melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Sultra belum lama ini. Dalam aksi tersebut, Formaki menduga terjadi ketimpangan  dalam proyek tersebut. Formaki bahkan menuding oknum staf Sekretariat DPRD Sultra pernah mengundang satu perusahaan agar mengikuti proses lelang  dengan dalih perusahaan tersebut direkomendasikan Wakil Ketua II DPRD Sultra.

Tak terima jabatannya disebut dalam aksi unjuk rasa, Jumarding akhirnya angkat bicara. Ia mengaku sama sekali tidak tahu menahu tentang undangan itu.  Ia bahkan menuding staf sekretariat  bernama Mangkona hanya menjual namanya.

“Saya merasa dijual namaku. Padahal saya tidak tahu apa-apa tentang proyek tersebut,” katanya saat ditemui pekan lalu.

Ia pun menduga Sekretaris Dewan (Sekwan), Nasruan  berada di balik proyek tersebut. Ia menduga Nasruan telah mencemarkan nama baiknya dengan memerintahkan Mangkona mengundang satu perusahaan untuk mengikuti proses lelang proyek tersebut dengan iming-iming akan menang tender. Lalu kenapa Nasruan yang Anda sebut?

“Karena pak sekwan (Nasruan) itu adalah pengguna anggaran. Jadi saya keberatan. (Rumah jabatan) ini kan aspirasi saya untuk dibangun dan kalau sudah jadi, saya yang akan tempati. Nah, kenapa saya disembunyikan jalannya proses (lelang proyek) ini,” kesalnya.

Jumarding mengaku pernah mendengar dugaan ketimpangan dalam proyek tersebut. Bahkan pada 25 April 2017, politikus Partai Demokrat ini bertemu dengan Nasruan di gedung paripurna. Waktu itu, Jumarding  meminta Nasruan supaya mempertimbangkan baik-baik sebelum mengambil keputusan persetujuan pemenang lelang proyek rehabilitasi rujab Wakil Ketua II DPRD Sultra.

“Saya sampaikan begitu karena pak sekwan pengguna anggaran. Tapi waktu itu, beliau meminta saya tidak meributkan tentang lelang rujab apalagi mau menelepon tentang itu karena jangan sampai kedengaran Badan Pemeriksa Keuangan dan  disadap. Waktu itu, saya langsung diam dan bertanya-tanya dalam hati ada apa sebenarnya pak sekwan sampai takut sekali terdengar orang tentang lelang proyek ini,” ulasnya.

Jumarding  pun meminta supaya polisi, jaksa dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit seluruh pengelolaan anggaran yang ada di DPRD Sultra.

Nasruan sendiri membantah  pernah memerintahkan stafnya bernama Mangkona untuk mengundang satu perusahaan dengan iming-iming akan dimenangkan dalam proyek rehabilitasi rujab Wakil Ketua II DPRD Sultra. Menurutnya proses lelang proyek ini ada di Badan Layanan Pengadaan (BLP) Pemerintah Provinsi Sultra.

“Bisa tanya ke (staf saya). Pernahkah ada yang saya arahkan untuk menang? Tidak ada itu. Tidak bisa kami intervensi siapa yang menang karena lelangnya melalui BLP,” jelasnya.

Mantan Penjabat Bupati Buton ini mengaku pemenang tender rujab Wakil Ketua II DPRD Sultra pernah datang melapor ke ruangannya setelah proses lelang sudah selesai.

“Waktu itu, pemenang ini mengaku sudah menang (lelang) proyek rujab. Tapi saya bilang ke dia bahwa saya tidak bisa terima sebelum ada laporan dari staf saya mengenai hasil lelang itu. Nanti ada laporan dari staf baru saya berikan arahan mau diapakan (rujab Wakil Ketua II DPRD Sultra),” ungkapnya.

Nasruan menegaskan, lelang proyek tersebut sama sekali tidak ada sanggahan. Karena tidak ada, maka pekerjaannya harus dilanjutkan.

“Mungkin di situ saya dianggap mengamankan (perusahaan pemenang). Padahal saya sama sekali tidak pernah begitu. Saya jalankan aturan. Ketika ada pemenang, segera  tanda tangan kontrak. Jadi saya tidak pernah iming-imingi perusahaan untuk menang,” bebernya.

 Ia juga mengakui pernah bertemu dengan Jumardin di ruang paripurna. Tapi pada waktu itu, Nasruan hanya mendengarkan pernyataan politikus Partai Demokrat tersebut. “Waktu itu, saya iya iya kan saja. Tapi saya kan harus jalankan sesuai koridor aturan. Kalau (kontraktor) ini sudah menang,  ya menang,” tegasnya.

Proyek rehabilitasi rujab Wakil Ketua II DPRD Sultra dimenangkan oleh CV Gaung Angkasa Sejahtera. Anggaran proyek ini sebesar Rp 1,4 miliar. Namun,perusahaan ini memenangkan tender setelah mengajukan penawaran sebesar Rp 1,3 miliar.

Dalam portal Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), proyek rehabilitasi rujab itu diminati oleh 39 perusahaan. Namun dalam perjalanannya, hanya tiga perusahaan yang mengajukan dokumen penawaran. Mereka adalah CV Zhafran Prima Land, CV Berkat Terang dan CV Gaung Angkasa Sejahtera.  Harga penawaran ketiganya bervariasi.  CV Zhafran Prima Land mengajukan penawaran sebesar Rp  1.433.000.000, CV Berkat Terang sebesar Rp 1.376.700.000 dan CV Gaung Angkasa Sejahtera  1.393.780.000. Namun yang dinyatakan menang adalah CV Gaung Angkasa Sejahtera. (rs)

Click to comment
To Top