Full Day School, Sarana Harus Memadai – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Pendidikan

Full Day School, Sarana Harus Memadai

Dr Halim Momo

KENDARI – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berencana penerapan lima hari sekolah atau Full Day School (FDS) yang bertujuan untuk memperbaiki sistem penilaian kerja guru. Hal ini seiring dengan terbitnya peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2017 tentang revisi beban kerja guru.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sultra, Dr Abdul Halim Momo mengatakan, penerapan Full Day School bisa saja dilaksanakan asalkan pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat menunjang siswa.

“Tidak boleh juga anak itu full belajar, ada waktu istirahat, ada waktu tidur, dan ada waktu bermain. Karena itu, sekolah juga harus menyediakan tempat tidur untuk digunakan siswanya yang ingin istirahat,” ungkapnya kepada Rakyat Sultra, Minggu (18/6).

Halim menjelaskan, selain sarana dan prasarana psikologi anak juga mesti diperhatikan. Siswa, kata dia, tidak boleh dipaksa belajar full tetapi disesuaikan dengan psikologinya. Olehnya itu, sarana yang digunakan sebagai tempat bermain, dan tempat istirahat siswa harus dilengkapi.

Menurut dia, Ful Day School saat ini belum bisa diterapkan diseluruh daerah di Indonesia termasuk di Sultra. Hal ini disebabkan sarana dan prasarana tiap sekolah berbeda beda. Kalau pun diterapkan, maka tidak bisa disamaratakan.

“Untuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar jangan Ful Day School, konon kabarnya dalam satu minggu ada yang cuma masuk sekolah tiga hari. Kalau di kota kemungkinan bisa diterapkan, tetapi kalau di desa tidak bisa di paksakan untuk diterapkan dengan kondisi sarana dan prasarana yang minim,” katanya.

Akademisi UHO ini juga menilai, Full Day School bukanlah konsep yang baru melainkan adopsi dari konsep Ki Hadjar Dewantara yang menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar tetapi juga dijadikan taman tempat untuk bermain. Sehingga, ketika libur anak menjadi rindu saat berada di sekolah.

“Saat ini yang menjadi masalah kalau guru tidak masuk, anak anak senang. Ada apa dengan pendidikan kita?,” terangnya.

Dengan demikian, persoalan tersebut juga mesti menjadi perhatian pemerintah dalam menyediakan fasilitas di sekolah. (rs)

Click to comment
To Top