Kurangnya Pembinaan, Nelayan Jadi Miskin – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Metropolis

Kurangnya Pembinaan, Nelayan Jadi Miskin

ilustrasi

KENDARI – Berdasarkan hasil penelitian dilakukan peneliti Universitas Halu Oleo dalam mengkaji multi dimensi kemiskinan masyarakat nelayan, ditemukan bahwa kurangnya pembinaan dan pendampingan merupakan pemicu terjadinya kesenjangan.

Hal ini disampaikan Kodinator Peneliti UHO. Hartina Batoa dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Balitbang Sultra.

Berdasarkan penelitian dilakukan diberbagai tempat, Hartina mengungkapkan permasalahannya sama. Selama ini, kata dia, masyarakat nelayan hanya diberikan bantuan tetapi tidak diberikan pembinaan dan pendampingan sehingga yang terjadi adalah masyarakat yang merasa tidak di dampingi kemudian menjual bantuan yang diberikan oleh pemerintah.

“Kan mereka (masyarakat) berpikir nanti akan dapat bantuan dari pemerintah lagi, jadi tidak apa apa walaupun bantuan itu dijual,” ungkapnya.

.Selain itu, Dosen Agribisnis UHO ini juga memberikan contoh pada masyarakat nelayan di Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli. Ia menilai, permasalahan yang dihadapi nelayan di Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli saat ini karena belum adanya pembinaan dan pendampingan dalam mengelola sumber daya perikanan.

“Pembinaan dan pendampinganlah yang harus diberikan kepada masyarakat nelayan agar mereka bisa lebih mandiri dalam meningkatkan perekonomiannya,” ujarnya.

Sebagai peneliti, pihaknya hanya bisa memfasilitasi kepada pemerintah tetapi yang memiliki andil dalam memberikan bantuan, pelatihan dan pendampingan adalah pemerintah.

Menurut dia, permasalahan kemiskinan juga membutuhkan kajian dari berbagai dimensi termasuk pada pemasaran hasil perikanan, pendampingan, pendidikan, tanggung jawab bersama, sosial budaya dan sosial politik.

Ditempat yang sama, salah satu nelayan di Kelurahan Lapulu Nasir menuturkan, pihaknya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Sementara itu, dirinya juga tidak berani meminjam uang di Bank. Menurutnya, meminjam uang di Bank yang menjadi anggunan adalah rumah. Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga membantah jika informasi yang menyatakan masyarakat nelayan Nambo sudah banyak yang mengalami peningkatan.

“Saya tidak berani meminjam kalau rumah saya yang menjadi anggunannya, nelayan Nambo yang dikatakan banyak yang kaya itu bukan pribumi melainkan pendatang dari Sulawesi Selatan,” terangnya. (rs)

Click to comment
To Top