Kini Osep Bisa Raup Lima Jutaan rupiah Perbulan dari bisnis Jamur Tiram. – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

Aneka

Kini Osep Bisa Raup Lima Jutaan rupiah Perbulan dari bisnis Jamur Tiram.

Osep saat menunjukkan jamur yang baru saja ia panen, di ruang panen jamur tiram miliknya,(7/5).
  • Bermodal Satu Juta Rupiah Kembangkan Usahanya

KONSEL – Jamur tiram atau Pleurotus ostreatus, merupakan jenis tumbuhan yang biasa ditemukan di kawasan lembab dan sejuk, dan tumbuh dibatang pohon yang tumbang ataupun sudah lapuk.

Tetapi siapa sangka tumbuhan itu ternyata mampu mendatangkan keuntungan yang besar, dari tangan seorang Osep, petani di Konawe Selatan. Bagaimana kisahnya, berikut laporannya.

Jamur tiram memiliki kandungan ptotein tinggi, kaya vitamin dan mineral. Rendah karbohindrat, lemak dan kalori. Dan tak kalah tumbuhan ini cukup enak dikonsumsi. Karena itulah jamur tiram banyak diminati.

Osep salah seorang warga asal kabupaten Konawe Selatan (Konsel), hanya dengan bermodalkan uang satu juta rupiah, kini dirinya sudah memiliki penghasilan sampai lima juta rupiah perbulannya, dengan menanam jamur tiram di pekarangan rumahnya.

Dirinya menceritakan, awal ia merintis bisnis menanam jamur, saat itu ia baru saja pulang kampung,  setelah lama merantau ke kota Yogyakarta menuntut ilmu.

Selama berkuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dirinya kemudian mengamati bagaiamana warga di kota gudeg itu mengembangkan jamur tiram. Setelah mempelajari dengan seksama pengembangan jamur tiram, dirinyapun terpanggil untuk mengembangkannya.

Setelah menyelesaikan studi, dirinya memilih pulang ke kampung halamannya, dengan bermodal pengalaman dan ‘kecintaannya’ terhadap jamur tiram tersebut, ia akhirnya memulai merintis dengan bercocok tanam jamur pada lahan pekarangan rumahnya, yang berukuran tujuh kali lima meter persegi.

“Jadi setelah lulus Kuliah di Jogja saya kembali di Konsel, saya mulai memikirkan apa yang harus saya lakukan setelah kuliah ini. Saya teringat dengan jamur tiram yang saya amati, disamping di Konsel belum ada yang mengembangkan jamur tiram untuk dibudidayakan,” tuturnya.

Atas dorongan tersebut, dirinya juga meminta bantuan kepada sahabatnya yang memang kebetulan ia bekerja pada Dinas Pertanian. Untuk membantunya mempelajari proses tanam dari tumbuhan jamur tiram.

“Saya belajar itu sekitar tiga hari, dan ternyata modal yang dibutuhan tidak banyak, karena menanam jamur ini lebih banyak bahannya dari limbah kayu, jadi tidak butuh modal banyak,” sambungnya.

Berawal modal uang satu juta rupiah, dirinya memulail bercocok tanam sendiri. Tidak butuh waktu lama untuk menguasai proses tanam dari jamur tiram itu sendiri.

Dengan mengandalkan pekarangan rumahnya yang kosong, ia mulai membuat rumah yang struktur bangunan keseluruhannya mengunakan atap rumbi. Rumah tersebut tempat persemaian tanaman jamur tiram.

Digunakannya struktur bangunan menggunakan atap rumbia sebab, dalam bercocok tanam jamur tiram, ia membutuhkan suhu udara ruangan dari 28 sampai 30 derajat celcius, untuk menghasilkan jamur terbaik.

Selain itu, bahan yang digunakan untuk media tanam dari jamur tiram yakni menggunakan serbuk kayu, yang sangat mudah ia dapatkan disetiap bangsal kayu, bahkan dirinya diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik bangsal kayu.

“Tapi walaupun media tanamnya kita gunakan serbuk kayu, kita juga jangan sampai salah memilih serbuk kayu, karena harus serbuk kayu kelas dua yang kita gunakan, agar jamur yang dihasilkan baik dan proses tumbunya juga cepat,” jelasnya.

Sementara untuk bibit jamur tiram, dirinya membelinya dari pulau jawa, untuk proses penanaman pertamanya. Namun setelah menghasilkan tanaman jamur, ia sudah mengolah bibit jamur sendiri. Tanpa harus membeli lagi dari pemasok bibit jamur dari luar Sultra.

Sebab dari batang jamur, sudah bisa membuat bibit jamur sendiri, dengan beberapa proses dan menggunakan media untuk menghasilkan bibit jamur.

Sementara itu, untuk proses tanam hingga pada proses panen jamur tiram, waktu yang ia butuhkan selama kurang lebih enam puluh hari, karena masa tumbuh jamur di dalam ruangan selama lima puluh hari.

“Masa prose panen itu, dari tiga bulan sampai empat bulan untuk produktifnya, namun jamur itu tetap akan keluar sampai tujuh bulan, sebelum akhirnya kita buang media tanamnya,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjutnya, untuk proses panennya dalam sehari dua kali, yaitu pagi dan sore. Saat ini dalam sehari, dirinya bisa menghasilkan sampai 30 kilo gram (kg) jamur tiram siap dikonsumsi. Dan untuk penjualannya sepuluh ribu rupiah per 300 gram.

“Sekarang yang saya bisa suplai hanya di pasar baruga. Rencana mudah-mudahan kedepan bisa saya suplai ke semua pasar, bahkan saya berniat untuk memasarkan sampai ke hypermart,” tutupnya.

Dan uniknya dalam kemasan jamur yang ia rintis saat ini, ia menamai bisnisnya dengan nama jamur tiram cap cinta. Ia berharap agar jamur yang ia pasarkan dicintai oleh masyarakat.(rs)

Click to comment
To Top