Perawat Honorer se-Sultra Ancam Mogok Kerja – Rakyat Sultra

Rakyat Sultra

ridwan bae ggd"
Sultra Raya

Perawat Honorer se-Sultra Ancam Mogok Kerja

Perawat honorer se-Sultra saat melakukan demonstrasi di Kantor Sekretariat DPRD Sultra, Kamis (18/5).

* Honor yang Diterima  Dianggap Tak Manusiawi

KENDARI – Forum Komunikasi Perawat Honorer Indonesia (FKPHI) Sultra mengancam akan melakukan mogok kerja, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh pemerintah.

Para perawat honorer se-Sultra ini meminta agar upah yang mereka terima tidak dibawah dari standar Upah Minimum Provinsi (UMP).

Ketua FKPHI Sultra Arzan Muliono Ambu menegaskan, kalau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, maka dirinya tidak segan segan mengintruksikan kepada seluruh perawat honorer di Sultra agar tidak melayani masyarakat (pasien).

“Buat apa kami bekerja jika pemerintah tidak pernah menghargai atas setiap kerja yang kami lakukan di puskesmas maupun di rumah sakit,” tegasnya, Kamis (18/5).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Sultra, Suwandi Andi mendukung penuh pemberian gaji sesuai UMP kepada perawat honorer. Menurut dia, jika perawat melakukan aksi mogok kerja, lalu siapa yang akan menangani masyarakat di puskesmas dan rumah sakit.

“Kalau perawat honorer mogok kerja seperti halnya saat ini dalam keadaan banjir, siapa yang akan menangani masyarakat di puskesmas maupun di rumah sakit?,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berjanji akan mengadakan rapat dengar pendapat pada 21 Mei 2017 agar permasalahan yang dihadapi perawat honorer dapat segera diatasi.

Ribuan perawat honorer dari 17 kabupaten/kota juga menuntut agar upah perawat diseluruh puskesmas dan rumah sakit dinaikkan. Massa aksi juga menolak upah perawat di bawah standar Upah Minimum Provinsi (UMP).

Dalam orasinya, Ketua DPW PPNI Sultra Heryanto mengatakan, sistem tenaga kerja sukarela yang selama ini diterapkan dari instansi pemerintahan maupun swasta dinilai merupakan sistem perbudakan modern. Karena itu, sistem tenaga kerja sukarela perawat honorer mesti dihapuskan.

“Tenaga kerja sukarela harus dihapuskan. Hal ini sangatlah tidak adil karena perawat honorer telah memberikan pelayanan kepada masyarakat tetapi upah yang diterima tidak sebanding dengan hasil kerja,” katanya.

Heryanto juga mengungkapkan, jika merujuk pada undang undang ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2013, dimana pasal 90 ayat 1 menjelaskan bahwa besarnya upah pemberi kerja dilarang membayar lebih rendah dari ketentuan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang ditetapkan pemerintah setempat.

Selain itu, pasal 88 ayat 1 juga menjelaskan setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. “Kami beranggapan saat ini pemerintah tidak menjalankan amanah undang undang tersebut, sehingga perawat honorer tidak memenuhi penghidupan yang layak,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Sultra, Suwandi Andi saat menemui para demonstran berjanji akan memfasilitasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sultra untuk bertemu dengan Dinkes Sultra, Disnakertrans Sultra dan beberapa stakeholder lainnya.

“Pegawai yang bekerja di Sultra harus mendapatkan upah yang layak termasuk perawat honorer. Olehnya itu, saya meminta sebelum bulan ramadan agar pada tanggal 21 Mei 2017 PPNI sudah bisa dimediasi bersama Dinkes, Disnakertrans dan stakeholder lainnya untuk membahas permasalahan yang dihadapi perawat honorer di Sultra,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Kamal salah satu perawat honorer asal Kabupaten Bombana menuturkan upah yang diterima bersama teman temannya yang lain sangat kecil. Ia mengaku gaji yang diterima honorer yang memiliki SK sebanyak Rp 450 ribu perenambulan.

“Gaji yang kami terima hanya Rp 450 ribu perenambulan, itupun yang telah bekerja dan memiliki SK, honorer yang memiliki SK ditempat kami hanya lima orang sehingga kalau terima gaji cuma yang lima orang saja yang terima,” terangnya.

Kamal juga mengakui saat bekerja terkadang juga ditemani oleh rekannya sesama honorer yang belum memiliki SK sehingga ketika terima gaji, gaji Rp 450 ribu terpaksa harus dibagi dua. “Kalau tidak dibagi dengan teman juga kasihan. Apalagi teman juga sudah membantu pekerjaan saya,” pungkasnya. (rs)

Click to comment
To Top