Forum dan Feature

Berkah dan Bencana Pemikiran

peribadi (1)

OPINI

BERKAH DAN BENCANA PEMIKIRAN

 Penulis :  Dr Peribadi

Dosen Sosiologi UHO

 

Hampir dalam semua hal, eksistensi bangsa dan negara tercinta ini, tertinggal jika dibanding dengan negara-negara lain. Namun salah satu soal ketertinggalan yang tampak menimbulkan perdebatan panjang nan melelahkan, plus membingungkan dan bahkan menimbulkan pergesekan di tengah bangsa merana ini, adalah ketertinggalan secara intelektual dalam pemikiran Islam sejenis gagasan, gugahan dan gugatan Nurcholish Madjid sejak tahun 1970-an lalu.

Betapa tidak, sang pemikir cemerlang nan kontroversial itu mendapat sorotan tajam di satu sisi, dan pembelaan mati-matian pada sisi lain. Di satu sisi, barisan cendikiawan yang menelaah secara kritis serta secara sistematis-akademis atas gagasan pembaharuan ala Cak Nur adalah Hamid Fahmy Zarkasyi, Syamsuddin Arif, Adnin Armas, Fathurrahman Kamal, dan Henri Shalahuddin Dll. Pada sisi lain, mereka yang kategori terus memperkuat kuda-kuda dan jurus pamungkas untuk membela dan meneruskan pemikiran cerdas Cak Nur, dominan berkumpul di Kampus Paramadina Jakarta.

Atas dasar itulah, sehingga mungkin saja menjadi menarik bagi seseorang untuk diinformasikan kepada kawan-kawannya, ketika dia kembali dari menonton sebuah pertandingan tinju atau sepak bola yang kebetulan terjadi sesuatu yang luas biasa dan menegangkan. Ibarat demikianlah uraian penulis dalam tulisan tersebut, yakni sekedar menceritrakan hasil tontonan realitas sosial selama ini. Sungguh tidak berpretensi untuk membedah kajian “Sipilis” dengan berbagai latar dan problematikanya.

 

PROSES DIALOGIS

Dalam prespektif teologi global, menurut Achmad Satori Ismail (2005) bahwa di antara yang menjadi sumber pluralisme agama. Pertama, adalah gagasan Frithjof Schuon tentang titik temu agama-agama. Gagasan ini berangkat dari asumsi bahwa sekalipun dogma, hukum, moral, ritual agama berbeda. Namun di kedalaman masing-masing agama masih ada kesamaan asas yang disebutnya religio perennis (agama abadi).

Kedua, Wilfred Cantwell Smith menyimpulkan hasil kajian seriusnya bahwa sangat perlu dilakukan kajian ulang atas terminologi agama. Kesimpulan tersebut berujung pada seruan untuk menyamakan semua agama.

Ketiga, John Hick yang dianggap sebagai tokoh paling penting dalam wacana pluralisme ini memprediksi bahwa secara gradual di masa mendatang akan terjadi converging courses (proses konvergensi cara-cara beragama), sehingga pada suatu ketika agama-agama ini akan lebih menyerupai sekte-sekte yang beragam.

Secara khusus dalam tataran realitas, salah satu contoh misalnya, menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (2004) bahwa proses weternisasi terjadi secara besar-besaran yang tidak hanya sebatas konsep-konsep dan istilah penting lainnya. Akan tetapi, juga terjadi pembaratan nama-nama Islam seperti: Ibn Sina diubah menjadi Avicenna, Ibn Rushd menjadi Averroes, Al-Ghazzali menjadi Algazel, Al-Jabr menjadi Algebra dan banyak lagi. Besar dugaan, dalam konteks lain pun terjadi hal yang tak jauh beda.

Sementara itu, mereka yang kategori reinkarnasi isme dan kecerdasan intelektual Cak Nur, seperti Dawam Raharjo terus berdendan bahwa para pengkritik Nurcholish selama ini, termasuk Prof HM. Rasjidi telah salah memahami gagasan Nurcholish, khususnya soal sekularisme dan sekularisasi.

Namun menurut Adian Husaini (2007) dalam sebuah artikelnya: “37 Tahun Pembaharuan Islam” menandaskan bahwa Nurcholish Madjid yang mengadopsi sejumlah pemikiran, di antaranya: dari Andrea Beufre, Harvey Cox dan Robert N. Bellah, seharusnya menyadari bahwa Islam tidak sama dengan Kristen, Yahudi atau agama lain yang merupakan historical and cultural religion. Islam adalah agama final dan sempurnah dari awal. Umat Islam memiliki teks kitab suci yang final, yang terjaga otentisitas teks dan maknanya, sepanjang sejarah. Demikian pula, umat Islam tidak mengalami problem sejarah keagamaan seperti yang dialami oleh kaum Kristen. Inilah menurut Adian Husaini yang merupakan kesalahan fatal dari gerakan pembaharuan Islam yang menyamakan karakter ajaran dan sejarah Islam dengan Kristen dan sejarahnya di Barat.

Capek khan, kalau kita terus disuguhi dengan perdebatan sengit, dan kapan berakhirnya serta apa manfaatnya ? Karena itu, yang terpenting menurut hemat penulis bahwa apa yang harus dilakukan oleh sebuah bangsa yang dikitari dengan hutan belantara keterpasungan, sehingga mampu keluar dari lingkaran setan kehidupan masyarakat kontemporer ? Kalau menurut guru bangsa Cak Nur perlu ditumbuhkan “Psychologikal striking force”, supaya bisa mengemuka ide-ide cerdas dan segar.

Jika demikian, dalam bentuk apa gerangan kekuatan pamungkas psikologis dimaksud, sehingga kelak menjelmah pikiran kolektif yang segar dan mencerahkan serta sepakat untuk menguburkan tindak-tanduk brutalisme dengan berbagai problematikanya ?

Kita pasti Haqqul Yakin, memang amat sangat dibutuhkan model pencerahan yang kelak mampu menetralisir virus dan bakteri akal bulus serta berbagai bentuk kejumudan lainnya. Namun dalam bentuk apa gerangan ? Apa sejenis kebebasan menuangkan seperangkat nafsu angkara murkah, sehingga seluruh harta karung negara ludas dimangsa oleh mereka yang sukses gemilang menempatkan negara ke tataran prestasi negara terkorup ?

Itulah mungkin akibatnya, karena kata Cak Nur: “Allah merupakan pusat orientasi transendental kehidupan. Jika hal ini tidak diamalkan, maka kita pasti berantakan”. Tak pelak lagi, jika orientasi penghambahan terus bergeser ke isme negeri-negeri di bawah kendali “paman sam”. Apa yang bakal terjadi, jika kelak “paman sam” sudah menjelmah menjadi “nenek sam”? Bukankah berarti, brutalisme kian berpeluang menjadi filosofi dan panji-panji kehidupan lucuisme ?

Betapa menakjubkan para pendahulu kita, karena dengan gilang gemilang berhasil memenangkan pertarungan fisik dengan kaum penebar virus “pemiskinan”. Namun kemudian, mengapa sang generasi tercinta penuh harapan kini, tampak tidak hanya kewalahan bergumul dengan “kemiskinan”. namun kian celaka lagi, karena kaum elite, cenderung tampil senonoh menjadi bagundal penebar virus “pemiskinan” itu sendiri. Akibatnya, ilmuan terperangkap penuh dilematis, karena mereka diperhadapkan dengan pola pengusiran lalat, atau harus dengan terpaksa menguburkan bangkai busuk yang menjadi sumber kerumunan lalat yang bertebaran itu ? Sungguh merupakan sebuah potret kehidupan dilematis yang menguras enersi sosial dan enersi ekonomi, karena kian mengalir deras biaya kemiskinan, tapi kemiskinan kian menjadi-jadi. Capeh deh !!!

Jika demikian, tepatlah kata Cak Nur: “percaya kepada Allah dan kepada Hari Kemudian lalu berbuat baik kepada sesama manusia, merupakan sendi utama pengalaman eksistensial manusia, karena itulah inti semua agama yang benar”. Jadi, apapun, semuanya bisa menjadi salah, jika edan oriented yang dominan berkiprah, termasuk “SEPILIS” (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme).

EPILOG

Demikianlah mungkin, SiPILIS dan musuh bebuyutannya adalah bukan sebagai solusi harapan bagi segerombol anak-anak zaman yang terlanjur dikangkeri dengan ganasnya virus korupsi ala Indonesia. Dan bahkan boleh jadi, kian menambah masalah, karena menguras enersi perdebatan yang amat melelahkan. Sementara di tengah belantara kelelahan itu, menjelmah sebuah bengkel ala ESQ power Ary Ginanjar Agustian yang mampu menghidupkan “mayat berjalan” yang kebetulan jumlahnya cukup banyak malang melintang di republik tercinta ini.

Kita bisa percaya, ikhwal seperti itulah yang sesungguhnya diimpikan dan didambakan oleh sang guru bangsa sekaliber Cak Nur, yakni sebuah rekonstruksi pemikiran dan tindakan yang mampu mencerahkan. Meskipun menurutnya, hanya ada dua tipologi kematian yang dialami atau dirasakan anak-anak manusia, yakni kematian sebelum kita dilahirkan di dunia dan kematian fisik sebagai akhir hidup duniawi untuk memasuki hidup ukhrawi.

Sungguh amat sulit menyalahkan orang-orang yang allergi dan traumatis dengan modernisasi. Pasalnya, menurut Anis Matta (2002) bahwa kegagalan pembangunan telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap panji-panji modernisasi. Maka masyarakat pun berusaha mencari tesis-tesis alternatif, dan Islam adalah jawabannya.

Akhirnya, sebagai kunci penentu atas segalanya adalah perlunya sebuah Framework yang mampu mengentaskan keterbukaan, kejujuran, ketulusan, keikhlasan, kelapangan dada, dan keseriusan untuk bersama-sama memikirkan kesinambungan bangsa dan negara yang tengah merana ini. Dalam artian, siapapun dan apapun ismenya, jika memang dia sanggup menunjukkan konsep pemikiran yang original, komprehensif, landasan metodologi yang kokoh, dan output empiris yang sukses sejenis training ESQ dan lembaga-lembaga keuangan Islam. Maka, pasti akan mengalami progress yang luar biasa serta mendapat respon dalam nurani masyarakat, tanpa perlu harus menguras enersi berlebihan

Sebaliknya, jika gerakan-gerakan kita hanya sekedar doyan bermain retorika terhadap gerakan-gerakan yang diklaim musuh bebuyutannya, tanpa sebuah hasil karya nyata dan terasa bermanfaat bagi rakyat yang kebanyakan dililit nestapa. Maka, pasti dianggap kurang penting untuk direspon dan apalagi dipanuti. Kecuali jika dibombardemen dengan dollar. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.  **

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Rakyat Sultra dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.




©2016 Rakyat Sultra by Fajar.co.id

To Top